.:: Daftar Isi ::.

Daftar Isi

السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Kamis, 06 Oktober 2011

Taubat Nasuha Nabi Adam AS


Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata bahwa ketika Allah menerima taubat Nabi Adam a.s., para malaikat mengucapkan selamat kepadanya dan Jibril serta Mikail a.s. turun kepadanya seraya berkata, “Wahai Adam, tenanglah hatimu sebab Allah Ta'ala telah menerima taubatmu.”
Jawab Nabi Adam a.s., “Hai Jibril, jika sesudah taubat ini ada pertanyaan, maka di mana sebenarnya maqam (kedudukan) aku?”

Allah Swt pun menurunkan wahyu kepada Nabi Adam a.s., “Hai Adam, Kuwariskan kepada keturunanmu jerih-payah dan upah, dan Kuwariskan taubat kepada mereka. Barangsiapa di antara mereka berdoa kepada-Ku, pasti Kukabulkan sebagaimana Aku mengkabulkan engkau, dan barangsiapa memohon ampunan-Ku, Aku tidak berlaku kikir ke atasnya. Sebab Aku dekat, dan pengampun dosa. Hai Adam, orang-orang yang bertaubat akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan suka ria dan tersenyum simpul di mana doa permohonan mereka dikabulkan.”


Menurut riwayat sirrah nabawiyah (sejarah nabi), setelah mengakui kesalahannya memakan buah khuldi karena bisikan dan rayuan syaitan, Nabi Adam as. dan Hawa diturunkan oleh Allah SWT ke muka bumi.

Naah menurut riwayat, Nabi Adam as. diturunkan di daerah yang sekarang disebut sebagai negara India, sedangkan Hawa diturunkan di tempat yang sekarang dinamakan Jeddah (arti dasarnya adalah nenek, mungkin karena di tempat ini turun nenek moyang umat manusia) di Arab Saudi.

Mari kita simak, keduanya akhirnya bertemu di Padang Arafah. Bisa dibayangkan bahwa jarak dari India jelas lebih jaaauuuuhhh ketimbang dari Jeddah kalau menuju Padang Arafah. Kok bisa ya? yang jelas Nabi Adam as. tak pernah lelah mencari Hawa, wanita pertama di dunia ini yang dicintainya.

Wujud Adam
Menurut hadits Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter).Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Menurut ajaran Islam, Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian yang menutup aurat, berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah serta syariat khusus untuk manusia saat itu.

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia adalah makhluk penghuni surga yang penuh peradaban maju. Turun ke muka bumi bisa dikatakan sebagai Manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (Pemimpin) di muka bumi dan ia dikatakan jenis makhluk terbaru di muka bumi yang sebelumnya belum pernah ada.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik (diCiptakan Allah sebagai Mahkluk yang paling Sempurna). Sesuai dengan Surah Al Israa' 70, yang berbunyi:

“ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan
(Al Israa' 17:70)
Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
(At Tiin 95:4)


Air Mata Taubat Nabi Adam A.S.

Semenjak Nabi Adam keluar dari Syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit karena terlampau malu kepada Allah SWT. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip.

Nabi Adam berdoa dalam taubatnya kpd Allah Swt:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
(Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat pada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi) (QS. Al-A'râf 23)


Dari air mata Nabi Adam itu Allah tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, "Sedap sungguh air ini." Nabi Adam terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya karena perbuatan durhakanya kepada Allah. Ini membuat Nabi Adam semakin hebat menangis.

Akhirnya Allah SWT telah menyampaikan wahyu yang bermaksud, "Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lezat dan hebat dari air mata taubatmu itu."

Sungguh sangat berbeda taubatnya Nabi Adam dengan taubat kita, Nabi adam bisa menangis selama seratus tahun, sementara kita kadang-kadang susah untuk menangis walaupun sudah melakukan maksiat yang banyak kepada Allah S.WT. Mudah-mudahan kita benar-benar menjadi hamba yang bertaubat. Aamiin…
(http://ponpes-almunawwar.blogspot.com/2010/09/air-mata-taubat-nabi-adam-as.html)

Di dalam Al Qur'an, juga terdapat ayat mengenai taubatnya Nabi Adam as,
Firman Allah swt.yang berbunyi:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”. (Al-Baqarah :37)

Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab:

Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As-Syafi'i halaman 63, hadits ke 89;
Yanabi'ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada cet. Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah;
Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir)
Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419;
Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi'i, jilid 1 halaman 60;
Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76.

Pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. , manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk melengkapi makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra . (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Sa'id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulullah saw.bersabda:

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu'. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.) : ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!' Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai'. Allah menegaskan : ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo'alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya) , engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan.'


Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha'ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala 'ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa'us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma'uz Zawa'id jilid V111/253. Waallahu'alaam


Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

Pada umat sebelum Rasulullah SAW, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Suatu hari dia menanyakan tentang orang yang paling alim di dunia ini, lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib. Lelaki itu pergi berjumpa sang rahib dan mengatakan bahawa dirinya telah membunuh 99 orang, apakah masih berhak untuk taubat. Rahib itu mengatakan tidak. Lalu dibunuhnya sekali rahib tersebut dan dengan itu cukuplah seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi siapa yang paling alim di dunia ini. Ditunjukkanlah kepadanya salah seorang alim, lalu ia pun mengaku kepada orang alim itu yang ia telah membunuh seratus orang, apakah ia boleh bertaubat.

Jawab orang alim itu, “Ya. Siapa yang dapat menghalang kamu daripada bertaubat? Pergilah ke kampung sekian, sekian. Di sana, orang-orangnya memuja Allah Ta'ala. Menujulah kepada Allah bersama-sama mereka dan jangan kembali ke kampungmu. Sebab kampungmu adalah tanah jahat.”
Di pertengahan jalan, lelaki itu telah meninggal dunia. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang siapa yang berhak menguruskannya.

Malaikat rahmat berkata, ” Di hatinya telah ada taubat kepada Allah.”
Malaikat azab pula berkata, “Dia belum berbuat kebaikan sama sekali.”
Kemudian, Allah mendatangkan malaikat lain dalam rupa manusia biasa untuk memutuskan perkara itu. Jarak di antara lelaki itu dengan kedua buah kampung pun diukur. Ternyata ia lebih dekat dengan kampung yang sedang ditujuinya dengan kadar satu jengkal. Akhirnya ia pun diuruskan oleh malaikat rahmat. Oleh itu, jelaslah bahawa tidak ada keselamatan kecuali dengan lebih beratnya timbangan kebaikan walaupun hanya seberat satu atom. Kerana itu wajib bagi orang yang bertaubat untuk trs senantiasa bertakwa dan berbuat kebajikan(beramal saleh).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah itu adalah orang yang melakukan dosa kerana kebodohan dan kekhilafan mereka. Lalu mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima taubatnya.” (Surah al-Nisa’, ayat 17)


Jika ini bermanfaat bagi orang lain, bagikan artikel ini dihalaman manapun. Pengetahuan yang didapat orang lain melalui anda dan dibagikannya lagi ke orang lain dan seterusnya akan menjadi amal jariah kebaikan anda.


Wassalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh ...

0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger template Islam Is My Way by Kurniawan NTc 2009

Back to TOP